Berita

Berita Thumbnail
Sabtu, 04 Desember 2021
Oleh: Admin

SEMINAR NASIONAL ASEDAS “Filling the Gap Between Tradition and Modernity”

Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti menjadi host pada seminar online ASEDAS dengan tema “Filling the Gap Between Tradition and Modernity” pada hari Sabtu, 4 Desember 2021 melalui Zoom meeting, diikuti oleh dosen, mahasiswa, dan praktisi desain, dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Acara dibuka oleh Dekan FSRD, Dr. Sangayu Ketut Laksemi Nilotama, M.Ds. yang dalam pembukaannya menyampaikan pentingnya peran intelektual desain dan seni dalam mengembangkan diskusi, penelitian dan ciptaan untuk mengisi kesenjangan antara tradisi dan modernitas saat ini.

Para Pembicara adalah:

  1. Dr. Adhi Nugraha, M.A dengan judul “Revitalisasi Desain Tradisi – Perkawinan Antara Tradisi dengan Modernitas”.
  2. Pongky Adhi Purnama, BFA, M.Sn. dengan judul “Re-capturing Traditional Beauty into Urban Society: Visualisasi Baju Adat Kotogadang pada Kalender Ikatan Ibu-ibu Kotogadang Jakarta”.
  3. Ariani, S.Sn., M.Ds. dengan judul “Padung-padung: Upaya Pelestarian Budaya Lokal Menghadapi Tantangan Global”.
  4. Arleti M. Apin, M.Sn. dengan judul “Posisi Tradisi di Masa Kini”.
    Moderator: Silviana Amanda A.T., S.Sn., M.Sn.

Pembicara pertama mengungkapkan perlunya desainer mengangkat tradisi, kearifan lokal sebagai inspirasi desain dengan cara terus menerus mengupdate tradisi tersebut agar selalu selaras dengan kehidupan kontemporer masyarakat. Hakekat dari melestarikan dan mengembangkan budaya/tradisi tersebut dengan terus mentransformasi budaya/tradisi setidaknya salah satunya berarti kita telah berkontribusi dalam menyelamatkan dan melestarikan tradisi tersebut.

Pembicara kedua menyampaikan budaya tradisi Minangkabau yang melatarbelakangi metode dan konsep penciptaan fashion photography untuk kalender yang menampilkan baju adat Kotogadang, Sumatera Barat untuk Ikatan Ibu-ibu Kotogadang. Sistem kekerabatan dalam masyarakat Kotogadang di Jakarta masih kuat walaupun masih dapat menerima perubahan, dan hasil dari foto dirasa mampu mengisi ruang negosiasi antara tradisi dan modern.

Pembicara ketiga menyampaikan tradisi perhiasan padung-padung yang dikenakan oleh istri dan anggota keluarga Sibayak, Karo, dari kalangan tertentu. Padung-padung memiliki makna simbolik dan makna filosofis bagi wanita pemakainya. Upaya mengangkat kembali padung-padung dilakukan oleh para desainer dengan menjadikannya sebagai inspirasi bentuk perhiasan dan motif dalam pakaian dan benda pakai lain.

Pembicara keempat menyimpulkan bahwa budaya senantiasa berubah. Tradisi yang telah teruji dalam kurun waktu yang lama menjadi budaya yang diinternalisasi oleh masyarakat. Individu memiliki kebebasan untuk memilih dan mempertimbangkan cara hidup saat ini. Batik gutta tamarind merupakan salah satu cara agar batik dapat berkembang, bertahan dan menjawab tantangan dalam bentuk baru.

Modernisasi adalah keniscayaan. Semoga diskusi ini memperkaya wawasan masyarakat khususnya akademisi dan desainer dalam mengembangkan kebaruan dengan tidak meninggalkan benang merah budaya tradisi Indonesia.